Industri musik independen Indonesia kembali kedatangan pendatang baru dengan karakter musikal yang kuat. Soerya, band alternatif retro asal Jakarta, resmi memperkenalkan karya debut mereka melalui single berjudul “Mungkin Di Esok Lusa”.
Dibentuk oleh tiga musisi dengan latar dan referensi musik yang beragam, Soerya hadir
membawa pendekatan yang menggabungkan nuansa vintage dengan eksplorasi musik alternatif modern. Formasi band ini terdiri dari Imong (vokal), Roni (gitar), serta Andi Boegil (drum), yang dikenal sebagai drummer dari Merpati Band.
Nama terakhir tentu tidak asing. Andi Boegil dikenal sebagai drummer dari Merpati Band, salah satu grup yang pernah menggebrak industri musik nasional. Namun di Soerya, ia datang bukan untuk mengulang masa lalu — melainkan membangun sesuatu yang lebih liar dan lebih organik.
“Musik di sini bukan sekadar hitungan angka atau formula industri. Semua dibangun dari karakter, referensi, dan keberanian untuk punya identitas sendiri. Itu yang bikin gue tertarik ada di proyek ini,” ujar Andi Boegil.
Melalui Soerya, para personel berupaya membangun ruang musikal yang lebih personal, emosional, dan berkarakter. Tidak sekadar menghadirkan musik yang mudah dinikmati, mereka juga menempatkan detail harmoni, atmosfer, dan pendekatan artistik sebagai fondasi utama dalam setiap karya.
“Musik di Soerya dibangun bukan hanya untuk terdengar baik, tetapi juga untuk memiliki identitas dan rasa. Kami ingin setiap lagu punya karakter yang kuat dan bisa meninggalkan kesan emosional bagi pendengarnya,” ujar Andi Boegil.
Single perdana “Mungkin Di Esok Lusa” menjadi representasi awal dari arah musikal Soerya. Lagu ini mengangkat tema tentang harapan, penantian, dan ruang emosional yang sering kali hadir dalam hubungan manusia.
Secara musikal, lagu tersebut dikemas melalui pendekatan alternatif retro dengan warna sound yang hangat, groove yang organik, serta struktur harmoni yang kaya namun tetap terasa ringan dan mudah dinikmati.
“Mungkin Di Esok Lusa” menghadirkan perpaduan antara nuansa nostalgia dan sensibilitas modern, menciptakan pengalaman mendengarkan yang intimate sekaligus atmosferik.
Bagi Soerya, musik bukan semata hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan emosi secara jujur. Filosofi tersebut mereka rangkum melalui semangat yang mereka sebut sebagai “Vintage Volume” — sebuah pendekatan artistik yang menempatkan rasa dan karakter sebagai elemen utama dalam bermusik.
Single “Mungkin Di Esok Lusa” akan tersedia di seluruh digital streaming platform mulai Juni 2026 dan menjadi langkah awal Soerya dalam memperkenalkan identitas musikal mereka ke skena musik independen Indonesia.
Tags:
Indonesia