Lewat "Sementara Itu", Sembilan Tera Memilih Jujur Daripada Terdengar Indah

Tidak semua luka terlihat. Tidak semua cerita ingin dibagikan. Namun, Sembilan Tera memilih untuk tidak menyembunyikan apa pun.


Di saat banyak musik berlomba terdengar indah dan aman, Sembilan Tera hadir membawa sesuatu yang mentah, gelap, dan jujur. Sebuah karya yang tidak berusaha menyenangkan semua orang, melainkan mencari mereka yang diam-diam sedang hancur.

Bukan Band Baru, Hanya Akhirnya Berani Bicara

Terbentuk di Bandung pada Juni 2025, Sembilan Tera lahir dari sekumpulan musisi yang terlalu lama berdiri di balik lagu milik orang lain. Kini, mereka memilih untuk berbicara atas nama diri mereka sendiri.

Sembilan Tera diperkuat oleh:

• Arie Axara — Drums & Songwriter
• Aditya — Guitar
• Ricky — Bass
• Eza — Vocals
• Angga — Trombone
• Taufik — Keyboard

Mereka pernah menjadi suara bagi orang lain. Kini, mereka memilih menjadi suara bagi diri sendiri—meski itu berarti membuka luka yang belum benar-benar sembuh.


“Sementara Itu”: Saat Hidup Tidak Memberi Jawaban

Mini album perdana bertajuk Sementara Itu menggambarkan fase ketika hidup terasa menggantung. Fase ketika seseorang tidak tahu apakah harus bertahan atau menyerah, percaya atau berhenti berharap.

Mini album ini berisi lima lagu:
1. Luruh
2. Pergi
3. Akhir Cerita
4. Jujur Pada Luka
5. Sementara Itu

Seluruh lagu ditulis oleh Arie Axara, merangkai keresahan menjadi lirik-lirik yang tidak selalu nyaman didengar karena terasa terlalu dekat dengan kenyataan.


Bukan Musik untuk Semua Orang
Sementara Itu bukan karya yang dibuat untuk sekadar menjadi hiburan.

Mini album ini ditujukan bagi mereka yang pernah merasa sendirian di tengah keramaian, kehilangan arah namun tetap berpura-pura kuat, atau menyimpan terlalu banyak hal tanpa tahu harus bercerita kepada siapa.

Sembilan Tera tidak menawarkan jawaban atau akhir bahagia yang dipaksakan. Mereka hanya menghadirkan keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hal akan baik-baik saja.

“Kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan. Tapi berpura-pura tidak merasakan apa-apa.”

Dari Panggung Kafe Menuju Ruang yang Lebih Dalam

Berangkat dari panggung-panggung kafe, tempat mereka terbiasa membaca emosi orang-orang tanpa benar-benar mengenalnya, Sembilan Tera memahami satu hal:

“Semua orang terlihat baik-baik saja… sampai kamu benar-benar mendengarkan.”

Karena itu, mereka tidak lagi memainkan lagu-lagu yang aman. Mereka memilih menciptakan sesuatu yang mungkin terasa tidak nyaman, tetapi jujur.

Tidak harus sepenuhnya sembuh. Namun setidaknya, berani mengakui luka.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama