"Lawu Against Disorder": Saat Musik Keras Menjadi Suara Perlawanan

Wacana pengembangan proyek geothermal di kawasan Gunung Lawu mulai mencuat dan disosialisasikan sejak tahun 2016. Kekhawatiran masyarakat semakin meningkat ketika pembukaan lahan secara masif dimulai pada tahun 2018, khususnya di area perkebunan teh wilayah Kemuning. Aktivitas tersebut memicu keresahan terkait potensi kerusakan lingkungan, termasuk ancaman terhadap ekosistem dan sumber mata air di sekitar wilayah tersebut.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, sekelompok individu dengan semangat kolektif dan inisiatif mandiri mulai bergerak. Mereka turun ke jalan, menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan yang dinilai berisiko menimbulkan bencana ekologis serta pencemaran lingkungan. Suara yang mereka bawa lahir dari kepedulian mendalam terhadap ruang hidup mereka sendiri.

Gerakan ini kemudian bernaung di bawah nama Insurgent Kolektif, sebagai bagian dari Kelompok Peduli Alam Lereng Lawu (KEPAL). Pada awal Januari 2025, mereka berhasil menyelenggarakan sebuah pertunjukan musik kolektif bertajuk REVOLT VOL.2: “Against Nature Destruction”, yang menjadi medium ekspresi sekaligus konsolidasi gerakan.

Melanjutkan semangat tersebut, Insurgent Kolektif kembali menggelar REVOLT VOL.3 dengan tema “Lawu Against Disorder”. Acara ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik keras, tetapi juga ruang diskusi melalui sesi talk-show bersama Trend Asia sebagai narasumber.

Sejumlah band turut ambil bagian dalam gelaran ini, di antaranya Down for Life, KMZeronine, Gerbang Singa, 3265, Tore Up, Glory of Arupadatu, Suarvara, dan Fireball. Kehadiran mereka menjadi simbol solidaritas lintas skena dalam menyuarakan isu lingkungan.

Melalui REVOLT VOL.3, Insurgent Kolektif mengajak para pegiat musik keras, khususnya di wilayah Karesidenan Surakarta, untuk lebih peka dan kritis terhadap krisis lingkungan yang sedang berlangsung. Musik bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga alat perlawanan.

Jangan diam. Lawan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama