"IN SILENCE / I WOULD DIE…": LEDAKAN EMOSI NOOSE BOUND USAI 3 TAHUN HIATUS

Setelah tiga tahun vakum, quartet metallic hardcore asal Malang, Noose Bound, resmi kembali dengan single terbaru bertajuk “In Silence / I Would Die…”. Rilisan ini menjadi penanda kebangkitan mereka sekaligus babak baru dalam eksplorasi musikal dan kedewasaan pesan yang diusung.


Single tersebut terdiri dari dua track terpisah yang digabung tanpa jeda, menghadirkan dua sisi emosi dalam satu komposisi utuh. Untuk perilisan kali ini, Noose Bound menggandeng label lokal Malang, Brightside Records, yang sebelumnya dikenal aktif merilis band-band hardcore muda yang tengah berkembang.

Masih dengan formasi Rio (drum), Devrizal (gitar), Icang (gitar), dan Bagas (vokal), Noose Bound menghadirkan warna baru tanpa meninggalkan akar metallic hardcore yang telah menjadi identitas mereka sejak rilisan terakhir “To The Same End” (2022).

Dalam single ini, mereka menyuntikkan elemen black metal, part dinamis, rotasi pattern baru, hingga sentuhan clean vocal yang memperkaya tekstur musik. Eksplorasi tersebut terinspirasi dari rilisan metallic hardcore 90-an seperti All Out War, Kickback, dan Integrity, serta pengaruh modern seperti Vein.fm, Code Orange, Varials, hingga Loathe. Sentuhan clean vocal dan atmosfer emosionalnya bahkan memberi nuansa yang mengingatkan pada Deftones atau Vision of Disorder.

“Keinginan bereksplorasi muncul secara alami. Kami ingin berkembang sebagai musisi tanpa kehilangan benang merah musik kami sebelumnya,” ungkap mereka.

Bagian “In Silence” menjadi luapan kemarahan terhadap berbagai realitas sosial yang mereka saksikan—korupsi, arogansi, minim empati, hingga kekerasan di lingkup terdekat mereka. Musiknya terdengar chaos, berat, dan gelap, mencerminkan frustrasi terhadap situasi yang dianggap semakin meresahkan.


Sebaliknya, “I Would Die…” hadir dengan pendekatan yang lebih anthemic, tetap berat namun lebih reflektif. Dengan lirik “For those I love, I would die to sacrifice”, lagu ini menjadi ekspresi dedikasi dan cinta terhadap orang-orang terdekat—sebuah kontras dari kemarahan di bagian sebelumnya.

Melalui dua bagian tersebut, Noose Bound mencoba menyampaikan pesan yang lebih bertanggung jawab. Jika sebelumnya lirik mereka banyak dipenuhi amarah dan keputusasaan, kini mereka menggeser energi tersebut menuju arah yang lebih sadar dan membangun. Inspirasi lirik kali ini banyak dipengaruhi oleh semangat positif band seperti Hatebreed, Indecision, hingga Cro-Mags.

Bagas, sang vokalis sekaligus penulis lirik, mengakui bahwa fase hidupnya saat ini turut memengaruhi arah penulisan. Sebagai seorang ayah, ia merasa memiliki tanggung jawab lebih dalam menyampaikan pesan melalui musik.

Jika sebelumnya ia terinspirasi oleh tema depresif dan nihilistik dari Black Flag, Black Sabbath, hingga mendiang Ivan Scumbag (Burgerkill), kini ia memilih tetap jujur tanpa kehilangan karakter, namun bergerak ke arah yang lebih terang.

“Setidaknya suatu saat ketika anak saya membaca lirik ini, ia tahu bahwa ayahnya terus berusaha tumbuh menjadi lebih baik,” tutupnya.

Dengan “In Silence / I Would Die…”, Noose Bound tidak hanya menandai akhir masa hiatus, tetapi juga mempertegas transformasi mereka—lebih eksploratif secara musikal, lebih dewasa secara pesan, dan tetap tajam dalam menyuarakan keresahan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama