Rapper dan graffiti writer asal Indonesia, BankE, resmi merilis EP perdananya bertajuk “Bankemlinti” sebagai tonggak penting dalam perjalanan karier rap yang ia geluti. EP ini menjadi medium dokumentasi personal BankE atas proses hidup, pertumbuhan, serta rutinitas yang dijalani sehari-hari—baik sebagai pekerja tetap, kepala keluarga, maupun seniman yang terus berjuang di berbagai medan.
“Bankemlinti” berisi empat lagu, yaitu “Ki Aku”, “Foromah”, “30 Lit Kemlinti”, dan “Cah Graffiti”. Keempatnya saling terhubung sebagai narasi tentang hustle, konsistensi, dan kesadaran diri di tengah realitas hidup yang menuntut kerja keras tanpa henti.
Lagu “Foromah” merekam keseharian BankE sebagai pekerja yang tetap harus mencari penghasilan tambahan demi kehidupan yang layak bagi diri dan keluarga. Lelah, tekanan, dan perjuangan tersebut justru menjadi bahan bakar kreatif yang ia abadikan lewat suara, sebagai bukti bahwa proses hidup layak untuk didokumentasikan.
Sementara itu, “30 Lit Kemlinti” merefleksikan fase kedewasaan di usia 30 tahun—tentang menjaga energi, menolak kemalasan, dan tetap lincah dalam berpikir kreatif. Bagi BankE, berkarya tanpa mengikuti arus aman adalah bentuk rasa syukur dan komitmen untuk terus konsisten di jalur yang diyakini.
Melalui “Ki Aku”, BankE menegaskan sikap percaya pada proses yang dijalani, tanpa membandingkan diri dengan orang lain. Rap dan graffiti menjadi ruang terapi—perisai mental untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang semakin absurd dan sering kali sulit diterima logika.
Hubungan BankE dengan graffiti dituangkan secara utuh dalam “Cah Graffiti”. Dari medium yang kerap dianggap remeh, vandal, atau kotor, ia justru menemukan nilai-nilai penting: pertemanan, ikatan skena, pertukaran gagasan, serta jejak pergerakan yang bermakna. Bagi BankE, graffiti adalah rumah, benteng, keluarga, dan proses panjang yang membentuk karakter.
Dengan dirilisnya “Bankemlinti”, BankE berharap EP ini dapat menjadi arsip suara atas memori, struggle, dan hustle yang telah ia lewati. Sebuah pengingat bahwa perjalanan hidup—sekeras apa pun—selalu layak dirayakan dan dipelajari.
Sebagaimana keyakinannya yang ia pegang hingga hari ini:“Graffiti and Rap are the best teacher in life.” — BankE, 2026