MASIH KITA Rilis "Kamu dan Jam Tangan", Menangkap Momen Sebelum Sebuah Perpisahan

Jam berhenti di angka setengah dua. Di luar, hujan masih turun di pinggiran kota Jakarta. Dan seseorang berdiri diam, mendengar langkah kaki di belakangnya, belum tahu apakah langkah itu akan mendekat atau menjauh selamanya. Dari gambar sederhana namun bermuatan penuh makna itulah MASIH KITA membangun lagu terbaru mereka, “Kamu dan Jam Tangan” — single yang resmi dirilis hari ini melalui label Sintesa Pro.


MASIH KITA adalah duo vokal asal Bandar Lampung yang terbentuk dari pertemuan dua musisi dengan latar belakang prestasi vokal yang jarang ditemukan di tahap awal sebuah karier rekaman. Lois Claudia Mallasak membawa pengalaman paduan suara kompetitif kelas nasional — pemegang medali emas Bandung Choral Festival dan pemenang Bintang Radio Lampung 2025. M. Mahapatih Prawira Putra hadir dengan rekam jejak yang sama kuatnya: peraih penghargaan FLS3N dan vokalis Gita Bahana Nusantara 2025, vokal paduan suara kebanggaan nasional yang tampil langsung di Upacara Kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka. Bersama, keduanya memilih untuk tidak mengeksploitasi kemampuan vokal mereka sebagai pertunjukan — melainkan sebagai alat bercerita.


“Setengah dua masih sama / Kamu dan jam tanganku” — lagu ini berakhir bukan dengan resolusi, melainkan dengan sebuah gambar yang bertahan lama setelah musik berhenti.

“Kamu dan Jam Tangan” lahir dari pena Dede Basti dan diproduksi oleh Ade Ir, dengan sentuhan akhir mixing dan mastering oleh Derry Wijaksana. Aransemennya memilih jalan yang sempit namun tepat sasaran: ruang suara yang luas dan bernapas, harmoni vokal yang diletakkan dengan presisi, serta tempo yang sengaja tidak terburu-buru — seolah waktu memang sedang berdiri di tempat.

Liriknya bekerja melalui detail-detail kecil yang justru terasa besar: pita putih berbentuk kupu-kupu di rambut hitam, suara detak jam yang pelan, dan ketidakpastian tentang masa depan yang dibiarkan mengambang tanpa dipaksakan menjadi kesimpulan. Tidak ada tangisan dramatis. Tidak ada konfrontasi. Yang hadir hanyalah dua suara yang saling menjaga jarak yang pas — cukup dekat untuk terasa intim, cukup jauh untuk menyisakan ruang bagi pendengar masuk ke dalamnya.


Dari sisi bunyi, single ini menempatkan MASIH KITA di dalam arus dreamy pop — genre yang dalam satu tahun terakhir membangun ekosistem pendengar tersendiri di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Bagi pendengar yang sudah akrab dengan karya Cigarettes After Sex, wave to earth, atau Hindia, “Kamu dan Jam Tangan” akan terasa seperti menemukan bahasa yang sama dalam kosakata yang sedikit berbeda.

Single ini hadir sebagai kelanjutan dari debut MASIH KITA, “Sejak Dia Mati Sekali” — sebuah narasi tentang duka dan kekosongan yang ditinggalkan oleh kehilangan. Jika debut mereka bercerita tentang sesudah sebuah akhir, “Kamu dan Jam Tangan” memilih momen yang lebih sulit: tepat sebelumnya. Momen yang belum bernama, yang masih bisa berubah ke mana saja — dan karena itulah terasa paling berat. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama