Setelah satu tahun berkecimpung di dunia musik, band alternatif punk/punk rock asal Sampang, Madura, The Komat resmi merilis mini album/EP perdana mereka yang berjudul “Punggung Beton” pada 8 Desember 2025.
Mini album ini lahir dari keresahan yang sama sebagai bagian dari kelas pekerja. Firman Abdi selaku penulis lagu menuangkan berbagai potret kehidupan di lingkungan sekitar, khususnya isu-isu yang dekat dengan realitas generasi Z. “Punggung Beton” menjadi representasi suara generasi yang bertahan di tengah tekanan hidup, tuntutan sosial, dan pergulatan personal.
EP ini memuat empat track, yaitu:
• "Ampun Gusti"
• "Lelah yang Dirayakan
• "Doa Untukmu"
• "Udah Dirumah"
Secara musikal, The Komat tetap berada di jalur alternatif punk/punk rock dengan energi yang lugas, jujur, dan apa adanya—sejalan dengan karakter lirik yang reflektif dan kontekstual.
The Komat diperkuat oleh empat personel:
• Firman Abdi (Guitar/Vokal)
• Ryan Aji (Guitar)
• Abim Arthur (Bass/Vokal)
• Royhan (Drum)
Proses produksi mini album “Punggung Beton” memakan waktu kurang lebih enam bulan, dimulai dari tahap take guide hingga akhirnya resmi dirilis. Seluruh materi digarap secara kolektif oleh personel The Komat, dengan dukungan produser Bagus Fajar (Malang) dan Itantowi (Sampang).
Dalam proses kreatif dan produksi, The Komat juga didukung oleh tim kreatif:
• MyBedmemories (Desain Grafis)
• Disarm_le (Fotografer & Videografer)
• Aleuryd (Editor & Social Media Manager)
• Ridok Koleg (Runners)
Perilisan “Punggung Beton” sekaligus menjadi penanda babak baru bagi The Komat, menyusul keputusan salah satu personel, Ryan Aji, untuk mengundurkan diri dari band setelah proses produksi selesai.
Melalui EP ini, The Komat menegaskan identitas mereka sebagai band yang tumbuh dari realitas kelas pekerja dan berbicara tentang keresahan generasi masa kini dengan cara yang jujur dan berani.
“Punggung Beton” kini telah tersedia dan dapat dinikmati oleh publik sebagai langkah awal perjalanan panjang The Komat di skena musik alternatif Indonesia.